SENAMPAK LANGIT DARI DULU HINGGA KINI

Takdir bekerja dengan cara yang paling misterius ketika Sjahranie tanpa sengaja menjejakkan kakinya di perpustakaan kota yang menghadap langsung ke arah alun-alun kota berlantai pualam putih bersih, sebuah tempat favorit bagi para pencari ketenangan.


Ari Sjahranie
Oleh
Ari Sjahranie
serdadu angin malam menusuk pelan kemudian menyebar nona jadi gemetar porak-poranda akan dimulai ia duduk bersimpuh mengadu dan berserah pada Sang Khalik dalam batas kesanggupan Sjahranie
🍃

serdadu angin malam
menusuk pelan
kemudian menyebar
nona jadi gemetar
porak-poranda
akan dimulai

ia duduk bersimpuh
mengadu dan berserah
pada Sang Khalik
dalam batas
kesanggupan

— Sjahranie

Kota Arunika berdiri megah, peradaban modern yang memadukan kecanggihan teknologi dengan keselarasan alam yang terpelihara secara sempurna tanpa cela, tempat di mana bangunan-bangunan sederhana memantulkan cahaya matahari sore yang keemasan. Di bawah naungan kanopi pepohonan trembesi raksasa yang berjajar rapi di sepanjang trotoar pejalan kaki, kehidupan mengalir dengan ritme yang tenang, teratur, dan dipenuhi oleh desau angin sepoi-sepoi yang membawa kesejukan pada ingatan. Sjahranie, sering menghabiskan waktu senjanya di taman pusat kota yang dikelilingi oleh air pancur artistik berpola geometris. Meskipun dikelilingi oleh kemegahan arsitektur mutakhir dan kesibukan warga kota yang berlalu-lalang menggunakan kendaraan listrik tanpa suara, Sjahranie kerap merasa ada satu ruang kosong di dalam rongga dadanya yang belum pernah terisi oleh kehangatan yang sesungguhnya.

Takdir bekerja dengan cara yang paling misterius ketika Sjahranie tanpa sengaja menjejakkan kakinya di perpustakaan kota yang menghadap langsung ke arah alun-alun kota berlantai pualam putih bersih, sebuah tempat favorit bagi para pencari ketenangan. Di sanalah pandangan matanya terpaku pada sesosok perempuan muda yang duduk anggun di bangku kayu jati minimalis, dikelilingi oleh empat orang anak kecil yang sedang asyik merangkai bunga kertas berwarna-warni dengan gelak tawa yang renyah. Perempuan itu adalah Olivia, seorang ibu berusia 33 tahun yang memancarkan aura keteguhan luar biasa dari setiap gerak-gerik tubuhnya yang tenang, meskipun bayang-bayang kelelahan tampak samar membingkai wajah cantiknya yang menyimpan sejuta rahasia batin. Sjahranie, yang berdiri tertegun di balik pilar berbalut tanaman merambat hijau, merasakan sebuah debar asing yang menyelinap masuk ke dalam relung hatinya tanpa permisi, mengubah seluruh orientasi hidupnya seketika itu juga sejak pandangan pertama yang memesona.

Pertemuan-pertemuan singkat yang terjadi setelah hari itu membimbing Sjahranie untuk mengenal lebih dekat siapa sebenarnya Olivia, perempuan tegar yang harus memikul beban mahaberat sendirian setelah kematian merenggut nyawa suami tercinta Olivia, meninggalkan lubang menganga di dalam keluarga kecil yang kini hanya disangga oleh pundak rapuh seorang ibu muda. Setiap kali mereka berbicara di bawah rindangnya pepohonan taman kota, Sjahranie dapat menangkap dengan jelas betapa Olivia berusaha menyembunyikan sisa-sisa air mata dan kesedihan mendalam di balik senyuman manis yang selalu ia pasang demi menenangkan keempat buah hatinya. Olivia tidak pernah mengeluh kepada siapa pun mengenai betapa beratnya membesarkan anak-anaknya yang manis di tengah kerasnya gelombang kehidupan yang serba cepat.

"Waktu berlari begitu cepat bagaikan kereta yang meluncur di atas rel, meninggalkan sedikit sekali kesempatan bagi Sjahranie dan Olivia untuk merajut kisah cinta yang panjang atau menciptakan kenangan-kenangan dramatis seperti kisah dalam novel romantis."

Pertemuan mereka seringkali hanya sebatas pertukaran sapa singkat di dekat cafe, atau saat Sjahranie membawakan buku-buku dongeng untuk anak-anak Olivia yang selalu menyambutnya dengan senyum ceria penuh kepolosan. Namun, di dalam durasi yang sangat terbatas itu, Sjahranie mampu membaca bahasa tubuh Olivia yang menyiratkan betapa jiwanya masih terikat erat pada kenangan sang suami yang telah wafat mendahului takdir. Olivia adalah perempuan yang memilih untuk memeluk erat sisa-sisa kenangan tersebut di dalam bilik hatinya yang paling suci, menolak untuk membiarkan siapapun merusak kesakralan cinta pertama yang telah terukir abadi di sana.

Meskipun Olivia menunjukkan keteguhan luar biasa di hadapan publik dan keempat anaknya yang sedang tumbuh berkembang, Sjahranie sangat menyadari bahwa pertahanan diri itu dibangun di atas fondasi air mata yang senantiasa dibendung setiap kali malam menjelang tiba. Di sepertiga malam terakhir, ketika seisi Kota Arunika terlelap dalam keheningan total di bawah pendar cahaya lampu yang berpendar lembut, Olivia selalu terbangun untuk bersujud di atas sajadahnya. Dalam kesunyian kamar tidurnya yang temaram, ia mengangkat kedua tangannya yang gemetar, mencurahkan segala keluh kesah, kepedihan, dan permohonan perlindungan yang tiada bertepi kepada Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Doa-doa lirih itu dipanjatkan dengan keyakinan penuh bahwa hanya Sang Pencipta yang mampu menguatkan hatinya yang koyak, menjadikannya benteng kokoh bagi masa depan keempat anak yatim yang bergantung sepenuhnya kepadanya.

💡 Resonansi Rasa

Sjahranie, yang pada malam-malam tertentu sering merenung sendirian sambil memandang gugusan bintang di langit kota, kerap merasakan resonansi spiritual dari doa-doa yang dipanjatkan oleh Olivia di kejauhan sana. Perasaan cinta yang tumbuh di dalam dada Sjahranie bukanlah sebuah nafsu kepemilikan yang egois, melainkan sebuah kehendak suci untuk menjadi perpanjangan tangan Tuhan dalam menjaga dan melindungi keluarga kecil tersebut.

Ia ingin sekali melangkah masuk ke dalam kehidupan Olivia bukan untuk menghapus kenangan yang telah lalu, melainkan untuk berdiri di sampingnya sebagai sandaran yang kokoh ketika badai lelah menghantam pundaknya. Sjahranie menyadari bahwa perannya kelak adalah menjadi pelindung yang sabar, membiarkan proses penyembuhan luka batin Olivia berjalan secara alami tanpa ada sedikit pun paksaan yang mencederai ketulusan hati perempuan tersebut.

Sjahranie semakin memahami bahwa urusan hati manusia tidak pernah bisa diselesaikan oleh bualan semata. Ia sering berjalan menyusuri koridor-koridor pusat perbelanjaan beratap kaca transparan, merenungkan betapa rapuhnya eksistensi manusia di tengah megahnya peradaban yang mereka bangun sendiri demi mengejar kesempurnaan duniawi. Dalam perenungan yang panjang itu, bayangan wajah Olivia yang tenang namun menyimpan duka mendalam selalu berhasil menarik kembali perhatian Sjahranie ke dalam realitas kehidupan yang sesungguhnya. Sjahranie tahu betul bahwa ia harus bersabar menghadapi waktu, membiarkan musim berganti dan dedaunan mahoni gugur berganti tunas baru, seraya terus memelihara asa agar suatu hari nanti ia diizinkan masuk ke dalam lingkaran kehangatan keluarga kecil itu.

Hari demi hari bergulir, mempererat ikatan tak kasat mata yang terajut di antara kesunyian jiwa Sjahranie dan keteguhan iman seorang ibu muda bernama Olivia. Mereka sering menghabiskan sore hari dengan duduk berdampingan di bangku taman, menikmati keindahan langit senja tanpa perlu mengucapkan banyak kata-kata pujian yang berlebihan. Bagi Sjahranie, keheningan yang tercipta di antara mereka berdua justru memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar percakapan panjang penuh sanjungan kosong yang sering diobral oleh orang-orang di luar sana. Dalam keheningan itu, ia bisa merasakan degup jantung kehidupan yang sesungguhnya, sebuah harmoni batin yang menyatukan dua jiwa kesepian dalam pencarian akan makna ketulusan yang abadi di bumi.

Sjahranie berharap dengan sepenuh kesadaran batinnya agar takdir berkenan mempertemukan jalan hidup mereka dalam satu ikatan suci yang diberkati oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, menjadi pelindung setia bagi Olivia dan keempat anaknya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak pernah menuntut lebih daripada apa yang sanggup diberikan oleh hati Olivia yang masih berdarah-darah di balik senyuman tegar yang selalu ia tampilkan. Di bawah langit Kota Arunika yang bersih dan bersinar terang, Sjahranie memantapkan langkahnya untuk terus mendampingi perjalanan hidup perempuan hebat tersebut, siap merangkul segala kesedihan dan kebahagiaan yang akan datang menyapa di masa depan.

📖 CATATAN PENULIS & CATATAN KAKI
[Catatan Prosa]: Kisah fiksi reflektif mengenai persimpangan cinta, kesabaran, dan keteguhan iman seorang wanita.


KISAH REFLEKTIF
```

Subscribe untuk mendapatkan update terbaru dari kami:

0 Response to "SENAMPAK LANGIT DARI DULU HINGGA KINI"

Posting Komentar