Sepenggal Pertunjukan Bisu
Aku telah mengkristal dalam penantian, menjadi karang yang sabar dipahat oleh deburan detik, membiarkan waktu menyalut tubuhku dengan garam kesetiaan hingga tak ada lagi badai yang mampu menggeser arah pandangku. Aku tidak sedang diam; aku sedang tumbuh ke dalam, menyerap nutrisi dari setiap doa yang kupanjatkan pada sunyi, memperkokoh dinding jiwa agar layak menjadi tempat peresmian takdir kita kelak.
Hingga saatnya nanti, ketika langit memutuskan untuk tidak lagi bermain petak umpet, keheningan ini akan pecah menjadi fajar yang paling benderang. Kabar sakral itu akan turun layaknya embun yang menghapus debu keraguan, mengubah naskah rahasia kita menjadi sebuah perayaan nyata yang direstui oleh seluruh napas semesta.Aku tidak lagi menggunakan lidah untuk memanggilmu. Kata-kata hanyalah residu yang seringkali gagal menyampaikan hakekat. Maka, aku berbisik melalui gelombang yang berdesir di antara molekul udara, sebuah frekuensi purba yang hanya bisa ditangkap oleh radar batinmu. Di seberang sana, aku tahu kau sedang tersipu, seperti kelopak bunga yang melipat diri karena sentuhan embun pertama, meskipun tangan kita belum pernah benar-benar saling menganyam.Ada jarak yang sengaja kita biarkan membentang—seperti cakrawala yang tak pernah benar-benar menyentuh laut, namun keduanya saling mendefinisikan. Jarak ini tidak memisahkan; ia adalah ruang luas tempat rindu kita melarut, menjadi kabut yang memburamkan batas antara yang nyata dan yang khayal di ujung indra. Dan di bentangan itu pula, waktu kehilangan angkuhnya, melambat seperti tarian kunang-kunang di pelukan malam. Aku telah memilih untuk diam, bukan karena mati, melainkan untuk hidup dalam detak sunyi yang kau kirimkan.
Kini, aku telah menjadi bagian dari bumi yang kupijak. Aku berakar dalam penantian. Jiwaku bukan lagi pengembara, melainkan sebatang pohon yang memilih untuk diam dan menghujamkan kerinduan sedalam-dalamnya ke inti tanah. Aku tidak sedang menunggu dengan pasif; aku sedang tumbuh dalam diam, menyerap nutrisi dari setiap detik kesabaran, mempertebal kulit kayuku agar tahan terhadap badai yang meragukan kehadiranmu.
Mataku terpaku pada langit, menanti kepakan sayap seekor merpati putih—utusan dari keheningan yang paling tinggi. Ia akan turun membawa secarik kabar sakral, sebuah maklumat dari langit yang akan meruntuhkan tembok-tembok penyekat ini.
Pada saat itu, cakrawala yang selama ini kita pandangi terpisah akan melengkung dan melebur, menyatukan langit dan bumi di bawah satu perayaan cahaya. Setiap detak jantung kita yang dulunya hanya gema di ruang hampa, kini akan mekar menjadi simfoni yang mengguncang semesta, menyatakan bahwa apa yang ditulis di laci rahasia takdir, akhirnya terukir abadi di hadapan waktu.

0 Response to "Sepenggal Pertunjukan Bisu"
Posting Komentar