Sepenggal Pertunjukan Bisu

Kita adalah sepasang sajak yang belum sempat beradu rima, namun telah lebih dulu bersekutu dalam denyut. Maka biarlah kerinduan ini menjadi sebuah frekuensi yang menyusup ke dalam relung batinmu tanpa perlu mengetuk pintu indra.

Ini malam riuh sekali

Sepenggal pertunjukan telah dimulai

Antara jiwa-jiwa yang dirahasiakan Ilahi

Pada mulut yang bisu, aku berucap merdu padamu

Melalui gelombang, wahai nona yang tersipu malu

Dibiarkannya membentang jarak larut di ujung indrawi

Ku berakar dalam penantian

Sampai merpati putih datang

Membawa kabar sakral di hari peresmian

: Sjahranie

Malam ini, kesunyian adalah sebuah orkestra yang sangat gaduh. Di balik dinding-dinding yang membatu, ada keriuhan yang tak tertangkap telinga; sebuah pertunjukan tanpa suara yang digelar di atas panggung jiwa. Kita adalah dua pengelana yang naskahnya ditulis dengan tinta rahasia oleh jemari Ilahi, hanya untuk dibaca dalam kegelapan yang paling pekat.

Kita adalah sepasang sajak yang belum sempat beradu rima, namun telah lebih dulu bersekutu dalam denyut. Maka biarlah kerinduan ini menjadi sebuah frekuensi yang menyusup ke dalam relung batinmu tanpa perlu mengetuk pintu indra. Di sana, di balik jarak yang sengaja kita biarkan membentang—seperti cakrawala yang tak pernah benar-benar memeluk samudera namun senantiasa saling menatap dalam hening—aku mencintaimu melalui bahasa-bahasa yang belum ditemukan manusia.

"Aku telah mengkristal dalam penantian, menjadi karang yang sabar dipahat oleh deburan detik, membiarkan waktu menyalut tubuhku dengan garam kesetiaan hingga tak ada lagi badai yang mampu menggeser arah pandangku."

Aku tidak sedang diam; aku sedang tumbuh ke dalam, menyerap nutrisi dari setiap doa yang kupanjatkan pada sunyi, memperkokoh dinding jiwa agar layak menjadi tempat peresmian takdir kita kelak. Aku tidak lagi menggunakan lidah untuk memanggilmu. Kata-kata hanyalah residu yang seringkali gagal menyampaikan hakekat. Maka, aku berbisik melalui gelombang yang berdesir di antara molekul udara.

Di seberang sana, aku tahu kau sedang tersipu, seperti kelopak bunga yang melipat diri karena sentuhan embun pertama, meskipun tangan kita belum pernah benar-benar saling menganyam. Ada jarak yang sengaja kita biarkan membentang—seperti cakrawala yang tak pernah benar-benar menyentuh laut, namun keduanya saling mendefinisikan.

Kini, aku telah menjadi bagian dari bumi yang kupijak. Aku berakar dalam penantian. Jiwaku bukan lagi pengembara, melainkan sebatang pohon yang memilih untuk diam dan menghujamkan kerinduan sedalam-dalamnya ke inti tanah. Aku tidak sedang menunggu dengan pasif; aku sedang tumbuh dalam diam, menyerap nutrisi dari setiap detik kesabaran.

Mataku terpaku pada langit, menanti kepakan sayap seekor merpati putih—utusan dari keheningan yang paling tinggi. Ia akan turun membawa secarik kabar sakral, sebuah maklumat dari langit yang akan meruntuhkan tembok-tembok penyekat ini. Pada saat itu, cakrawala yang selama ini kita pandangi terpisah akan melengkung dan melebur, menyatukan langit dan bumi di bawah satu perayaan cahaya.

🕊️

Filsapedia

Ini malam riuh sekali  Sepenggal pertunjukan telah dimulai  Antara jiwa-jiwa yang dirahasiakan Ilahi  Pada mulut yang bisu, aku berucap merdu padamu  Melalui gelombang, wahai nona yang tersipu malu  Dibiarkannya membentang jarak larut di ujung indrawi  Ku berakar dalam penantian  Sampai merpati putih datang  Membawa kabar sakral di hari peresmian  : Sjahranie Malam ini, kesunyian adalah sebuah orkestra yang sangat gaduh. Di balik dinding-dinding yang membatu, ada keriuhan yang tak tertangkap telinga; sebuah pertunjukan tanpa suara yang digelar di atas panggung jiwa. Kita adalah dua pengelana yang naskahnya ditulis dengan tinta rahasia oleh jemari Ilahi, hanya untuk dibaca dalam kegelapan yang paling pekat.  Kita adalah sepasang sajak yang belum sempat beradu rima, namun telah lebih dulu bersekutu dalam denyut. Maka biarlah kerinduan ini menjadi sebuah frekuensi purba yang menyusup ke dalam relung batinmu tanpa perlu mengetuk pintu indra. Di sana, di balik jarak yang sengaja kita biarkan membentang—seperti cakrawala yang tak pernah benar-benar memeluk samudera namun senantiasa saling menatap dalam hening—aku mencintaimu melalui bahasa-bahasa yang belum ditemukan manusia.  "Aku telah mengkristal dalam penantian, menjadi karang yang sabar dipahat oleh deburan detik, membiarkan waktu menyalut tubuhku dengan garam kesetiaan hingga tak ada lagi badai yang mampu menggeser arah pandangku." Aku tidak sedang diam; aku sedang tumbuh ke dalam, menyerap nutrisi dari setiap doa yang kupanjatkan pada sunyi, memperkokoh dinding jiwa agar layak menjadi tempat peresmian takdir kita kelak. Aku tidak lagi menggunakan lidah untuk memanggilmu. Kata-kata hanyalah residu yang seringkali gagal menyampaikan hakekat. Maka, aku berbisik melalui gelombang yang berdesir di antara molekul udara.  Di seberang sana, aku tahu kau sedang tersipu, seperti kelopak bunga yang melipat diri karena sentuhan embun pertama, meskipun tangan kita belum pernah benar-benar saling menganyam. Ada jarak yang sengaja kita biarkan membentang—seperti cakrawala yang tak pernah benar-benar menyentuh laut, namun keduanya saling mendefinisikan.  Kini, aku telah menjadi bagian dari bumi yang kupijak. Aku berakar dalam penantian. Jiwaku bukan lagi pengembara, melainkan sebatang pohon yang memilih untuk diam dan menghujamkan kerinduan sedalam-dalamnya ke inti tanah. Aku tidak sedang menunggu dengan pasif; aku sedang tumbuh dalam diam, menyerap nutrisi dari setiap detik kesabaran.  Mataku terpaku pada langit, menanti kepakan sayap seekor merpati putih—utusan dari keheningan yang paling tinggi. Ia akan turun membawa secarik kabar sakral, sebuah maklumat dari langit yang akan meruntuhkan tembok-tembok penyekat ini. Pada saat itu, cakrawala yang selama ini kita pandangi terpisah akan melengkung dan melebur, menyatukan langit dan bumi di bawah satu perayaan cahaya.    🕊️ FILSAPEDIA


Subscribe untuk mendapatkan update terbaru dari kami:

0 Response to "Sepenggal Pertunjukan Bisu"

Posting Komentar