Diberikannya Olivia
Dari kejauhan Aku menatap..
Serentak duri-duri deritaku lenyap,
tersapu oleh lentik matanya..
yang sederhana
Kapan kita bisa bicara merdu?
kali ini aku tak meragu..
Ritmenya masih terjaga..
Setelah sekian purnama..
Aku menjumpainya,
pada tenangnya malam..
Begitu dekat dan menetap..
Walau sulit di genggam..
Disebutkannya Olivia,
dalam doa seorang pria..
Yang selalu mengadu pada Tuhannya.
Di sudut kedai yang temaram, di mana aroma kopi berbaur dengan sisa hujan sore tadi, Aku masih saja terkurung dalam labirin ingatan yang sama. Jemariku mengetuk permukaan meja kayu yang kasar, seolah mencoba menyamai ritme detak jantung yang mendadak liar setiap kali bayang-bayangmu melintas tanpa permisi. Ada rasa asing yang mengalir pelan, sebuah getaran familiar yang selalu bangkit dari dasar sunyi, menuntut sebuah ruang untuk diakui setelah sekian lama terkunci rapat dalam dada.
Dari kejauhan yang terukur oleh bentang takdir, Aku menatap sosok itu berjalan membelah keremangan malam dengan langkahnya yang anggun namun sederhana. Serentak, segala duri derita yang selama ini menghunjam kalbuku lenyap seketika, menguap ke udara bagai embun yang tersapu kehangatan fajar. Kedamaian yang ganjil itu datang tanpa ketukan, menyapu bersih seluruh remah kesedihan hanya melalui sepasang lentik matanya yang menatap dunia dengan bersahaja.
"Kapan kita bisa kembali bicara, tanpa sekat, tanpa cemas?" bisikku lirih pada angin malam yang berembus pelan, membawa rindu yang menolak mati. Kali ini, ego dan ketakutanku telah luruh sepenuhnya, aku tak lagi meragu sedikit pun tentang ke mana arah kompas jiwaku harus berlabuh. Rasa yang berkecamuk di dalam dada ini rupanya masih terjaga dengan sangat patuh, tidak bergeser satu senti pun dari porosnya yang semula.
Waktu mekar dan gugur silih berganti, mengalir dalam hitungan yang melelahkan setelah sekian purnama kita dipisahkan oleh keheningan dan jarak yang tak kasat mata. Namun, ingatan tentang senyummu tidak pernah menguning seperti kertas usang, ia tetap tajam menembus batasan dimensi dan logika yang sengaja kubangun. Kehadiranmu yang berkala di ambang sadar senantiasa menjadi jangkar yang menahan waras ini agar tidak hanyut terseret arus keputusasaan yang pekat.
"Sebab hanya di sini aku bisa menyentuhmu tanpa takut mematahkan sayapmu," jawabku berbisik.
Maka di sinilah aku sekarang, entah dalam nyata atau fana, kembali menjumpainya pada tenangnya malam yang membentang luas seperti samudera tanpa ombak. Malam selalu menjadi panggung yang paling jujur bagi para perindu, di mana tirai kepalsuan siang hari disingkap secara paksa oleh sunyi. Dalam dekapan kegelapan yang magis ini, sosoknya seolah menjelma menjadi satu-satunya cahaya yang sudi menemani langkah kaki yang gemetar menyusuri jalanan sepi.
Namun, ada perih yang menyusup di antara kenyamanan itu, sebuah kesadaran pahit bahwa dirinya tetaplah sosok yang teramat sulit untuk benar-benar digenggam dalam jemari kasarku. Dia bagaikan angin gunung yang segar, bisa dirasakan kehadirannya yang menyejukkan namun sulit untuk dipenjarakan dalam kepalan tangan yang egois.
Pada detik-detik terakhir sebelum fajar menyingsing, disebutkannya nama, Olivia.. Dengan getaran yang luhur dan takzim dalam untaian doa seorang pria. Pria yang selalu mengadu pada Tuhannya. Di dalam bait-bait doa yang sunyi itu, nama Olivia diberikannya abadi.
Filsapedia

0 Response to "Diberikannya Olivia"
Posting Komentar