Menyidang
Tergiring kenang,
aku jadi tegang.
Pelan-pelan hilang,
lantas kuulang biar lapang.
aku terjang.
Sepi menantang,
aku guncang.
Kabar lekang
dari Semarang,
rapuh menyidang
kekalnya bayang.
Mari melingkar tenang
di bawah terang,
tuangkan wedang
dan berbincang.
Menyidang
Matahari Semarang berdiri tegak di atas ubun-ubun cakrawala, memuntahkan lidah-lidah api yang memanggang aspal jalanan tanpa ampun sedikit pun. Sjahranie melangkah membelah kerumunan udara panas, membawa sekeranjang ingatan usang yang terus-menerus mengetuk dinding kesadarannya yang mulai merapuh. Di kota inilah seluruh poros kehidupannya pernah berputar secara anggun, sebelum akhirnya takdir memaksanya berhenti secara mendadak dan memporak-porandakan impian. Setiap sudut jalan yang dilaluinya seolah menjelma menjadi cermin raksasa yang memantulkan kembali serpihan-serpihan wajah masa lalu yang menolak untuk sepenuhnya terlupakan oleh sang waktu.
Langkah kakinya membawa pria itu menuju sebuah kedai tua yang bersandar sunyi di bawah rindangnya pohon mahoni tua berakar raksasa. Sjahranie membutuhkan tempat berlindung dari sengatan terik yang membakar kulit sekaligus ruang sunyi untuk menata kembali hatinya yang mendadak koyak. Aroma kopi dan kayu jati tua langsung menyambut indra penciumannya saat ia mendorong pintu kayu yang berderit pelan seolah memprotes kedatangannya. Di dalam ruangan yang remang-remang itu, waktu seakan-akan melambat, memberikan kesempatan bagi jiwa yang lelah untuk sekadar bersandar dan menghela napas panjang setelah didera perjalanan batin yang teramat melelahkan.
Namun, kedamaian semu itu mendadak menguap tanpa sisa ketika sepasang matanya menangkap siluet seorang wanita di sudut terjauh kedai tersebut. Jantung Sjahranie berdegup kencang, memompakan aliran darah yang mendadak terasa sedingin es ke seluruh tubuhnya yang mendadak kaku. Wanita itu duduk membelakangi jendela besar yang menampilkan lanskap kota di belakangnya, sedang khusyuk menatap permukaan cangkir keramik putih di hadapannya. Meskipun bertahun-tahun telah berlalu memisahkan mereka, garis takdir dan bentuk bahu itu sangatlah mustahil untuk disalahartikan oleh nuraninya yang terdalam.
“Apakah semesta sedang bercanda dengan mempertemukan kita kembali di tempat sekecil ini, Olivia? Aku telah pergi demi menghapus bayangmu, namun takdir justru menuntunku kembali ke hadapanmu,” tanya Sjahranie dengan suara yang sedikit bergetar, menahan gelombang emosi yang membuncah di dada.
Langkah kakinya telah menuntunnya berdiri tepat di samping meja wanita itu tanpa ia sadari sepenuhnya, menatap seraut wajah yang masih menyimpan keanggunan masa lalu yang tak pernah pudar oleh waktu.
“Sjahranie, kau rupanya, pria masa laluku yang kerap datang berkunjung dalam mimpi-mimpi sepi yang panjang. Duduklah, temani cangkir kesunyian ini, sebab tidak ada pertemuan yang benar-benar kebetulan di bawah kolong langit yang maha luas ini,” jawab Olivia sembari mempersilakan pria itu duduk di hadapannya dengan isyarat tangan yang lembut.
Suara Olivia terdengar seperti simfoni klasik yang mengalun indah di tengah kesunyian malam, membasuh dahaga jiwa Sjahranie yang telah lama mengering akibat pengembaraan batin yang teramat melelahkan.
“Aku tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuntun langkah kakiku kembali ke kota Semarang ini. Ada sepotong kabar lama yang membawaku kemari, sebuah pesan yang merapuhkan seluruh dinding pertahanan batin yang telah kubangun bertahun-tahun, mengadili kerapuhanku atas kekalnya bayangmu yang terus membakar ingatan batin ini tanpa pernah padam sedikit pun,” ujar Sjahranie sembari memandang lekat-lekat mata wanita yang pernah sangat dipujanya. Ia membiarkan tatapannya tenggelam dalam samudera masa lalu yang kini kembali terbuka lebar, menuntut sebuah penyelesaian spiritual yang jujur antara dua manusia yang pernah saling mengikat janji.
“Kita semua adalah budak dari kenangan yang kita ciptakan sendiri, Sjahranie, dan tidak ada tempat untuk lari. Kau datang membawa masa lalu yang rapuh, sementara aku di sini sedang belajar untuk mengabadikan bayang-bayang tersebut agar tidak hilang ditelan kekosongan dan keheningan waktu yang kejam,” sahut Olivia dengan nada suara yang terdengar begitu datar namun menenangkan jiwa. Wanita itu kemudian menyentuh jemari Sjahranie yang berada di atas meja, memberikan kehangatan nyata yang selama ini hanya berupa ilusi fatamorgana dalam ingatan sang pria.
Pertemuan itu menjelma menjadi sebuah sidang batin yang teramat khidmat, di mana masa lalu bertindak sebagai hakim yang kejam namun adil. Sjahranie merasa seluruh relung jiwanya ditelanjangi oleh kehadiran Olivia yang masih tetap memegang kunci utama dari ruang rahasia di hatinya. Mereka berdua menyadari bahwa waktu tidak pernah benar-benar menyembuhkan luka, melainkan hanya menumpuk lapisan-lapisan kedewasaan di atas luka tersebut agar tidak mudah berdarah kembali. Keheningan yang tercipta di antara kalimat-kalimat mereka justru menyuarakan lebih banyak hal mendalam dibandingkan kata-kata yang mampu diucapkan oleh lidah manusia.
“Mengapa kau pergi tanpa pamit waktu itu, meninggalkan aku dalam ketidakpastian yang teramat menyiksa? Apakah cinta yang kita agungkan dahulu hanyalah sebuah panggung sandiwara yang dengan mudahnya kau tinggalkan demi mengejar kesunyianmu sendiri tanpa memikirkan hancurnya seluruh duniaku saat itu?” tanya Sjahranie, menuntut jawaban atas pertanyaan yang telah menyiksanya selama ribuan malam. Matanya menatap Olivia dengan tatapan yang menuntut keadilan atas segala kesakitan yang telah ia lalui sendirian tanpa kehadiran belahan jiwanya.
“Ada hal-hal di dunia ini yang hanya bisa diselamatkan jika kita memilih untuk mengorbankan diri kita sendiri, Sjahranie. Kepergianku adalah satu-satunya cara agar kau bisa terbang tinggi menggapai impianmu tanpa perlu terbebani oleh duniaku yang runtuh akibat kepedihan yang seharusnya tidak seorangpun boleh tahu,” jawab Olivia lirih dengan seulas senyum getir yang menghiasi bibirnya yang indah. Sjahranie tertegun mendengar pengakuan itu, menyadari bahwa ketidakhadiran wanita itu selama ini bukanlah bentuk pengkhianatan, melainkan wujud tertinggi dari sebuah cinta yang bersedia melepaskan.
“Apakah kau bahagia dengan kehidupan yang kau jalani sekarang setelah melepaskan aku dan memilih jalan sunyi ini? Apakah pengorbanan yang kau lakukan sebanding dengan air mata yang kau teteskan dalam kesendirianmu selama bertahun-tahun tanpa ada aku di sisimu?” tanya Sjahranie lagi dengan suara yang kini terdengar lebih lembut dan penuh penerimaan batin. Ia benar-benar ingin mengetahui kondisi batin wanita yang telah mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi masa depan dirinya yang cemerlang di luar sana.
“Kebahagiaan bagiku bukan lagi tentang memiliki raga, melainkan tentang melihat orang yang kucintai tumbuh menjadi pribadi yang utuh dan bijaksana. Melihatmu berdiri di sini sebagai pria dewasa yang hebat adalah jawaban atas setiap doa yang kulantunkan dalam kesunutanku kepada Sang Pencipta, sebuah manifestasi cinta yang melampaui batas kepemilikan duniawi,” tutur Olivia dengan tenang. Ia telah menemukan kebenaran sejati kehidupan. Kata-kata itu mengalir bak air sejuk yang membasahi tanah gersang di dalam dada Sjahranie, meluruhkan segala dendam lama.
Mereka kemudian memesan dua cangkir wedang hangat, sebuah minuman tradisional yang mampu menghangatkan tidak hanya tubuh melainkan juga percakapan jiwa mereka. Sjahranie menuangkan minuman itu ke cangkir Olivia dengan tangan yang tenang, sebuah gestur penghormatan tertinggi terhadap wanita yang telah mendewasakannya lewat perpisahan. Asap tipis mengepul dari permukaan wedang, menari-nari di udara kedai yang diterangi oleh cahaya matahari sore yang mulai meredup keemasan. Lanskap kota Semarang di luar jendela tampak begitu megah di bawah siraman cahaya senja yang hangat, menjauhkan segala kesan kelam dari memori mereka.
“Mari kita membiarkan segala cerita usang selesai dengan terhormat. Tuangkan wedang ini ke dalam cangkir penerimaan, lalu mari kita berbincang tanpa ada lagi sekat dendam masa lalu yang melelahkan,” ucap Sjahranie sembari mengangkat cangkirnya, mengajak Olivia melakukan sebuah ritual perdamaian yang sakral. Olivia menyambut ajakan itu dengan penuh suka cita, membenturkan cangkirnya pelan hingga menimbulkan bunyi dentingan halus yang menandai berakhirnya masa-masa permusuhan batin di antara keduanya.
“Aku menerima perbincangan ini dengan hati yang lapang, Sjahranie, sebab rasa sakit yang kita simpan telah bermutasi menjadi sebuah kebijaksanaan yang dewasa. Kedai ini menjadi saksi bahwa kita bukan lagi remaja yang menangisi ego, melainkan dua manusia yang mengagumi keindahan takdir,” balas Olivia sembari menghirup wedang hangatnya dengan keanggunan yang tiada tara. Sjahranie memandangi wajah wanita itu, menyadari betapa dalamnya samudera jiwa yang dimiliki oleh sosok di hadapannya.
“Kau adalah makhluk paling indah yang pernah diijinkan semesta untuk mampir dalam pelukan hidupku, Olivia. Meskipun aku harus merelakanmu berjalan di atas takdirmu sendiri tanpa kehadiranku, aku bersyukur pernah menjadi bagian dari sejarah penciptaan kedewasaan jivamu,” bisik Sjahranie dengan ketulusan yang teramat murni dari dasar jiwanya. Ia menatap lekat-lekat mata Olivia, menyalurkan seluruh rasa cinta yang kini telah bertransformasi menjadi sebuah penghormatan spiritual yang agung.
“Terima kasih telah bersedia mengerti, Sjahranie, karena tidak semua pria mampu memahami arti dari sebuah pelepasan yang baik dan penuh martabat. Perpisahan kita bukan sebuah kutukan takdir, melainkan sebuah berkah tersembunyi yang memaksa kita berdua untuk tidak menjadi manusia yang egois dan kerdil,” balas Olivia dengan penuh rasa hormat yang mendalam. Di bawah siraman cahaya matahari sore yang mulai condong ke barat, kedua manusia itu tampak seperti dua ksatria spiritual yang telah memenangkan pertempuran melawan ego kepemilikan.
Waktu terus berputar tanpa memedulikan pergulatan emosi manusia yang berada di dalam kedai tua yang sunyi itu. Cahaya keemasan senja kini mulai digantikan oleh semburat warna ungu dan jingga yang menghiasi langit Semarang dengan keindahan yang magis. Sjahranie memandangi permukaan wedangnya yang kini telah mendingin, menandakan bahwa pertemuan bersejarah ini harus segera diakhiri demi menghormati batasan takdir masing-masing. Ada rasa berat yang teramat sangat menjerat kaki dan hatinya untuk beranjak dari kursi kayu tempat ia duduk di hadapan Olivia.
Namun, kedewasaan yang telah ia pelajari sepanjang sore ini menuntutnya untuk bersikap ksatria dan penuh kepasrahan terhadap kehendak semesta. Sjahranie tahu bahwa memaksakan kehendak untuk bersatu kembali hanya akan merusak keindahan makna pengorbanan yang telah dibangun dengan air mata oleh Olivia selama bertahun-tahun. Kebahagiaan yang sejati seringkali menuntut tebusan berupa rasa perih yang mendalam, dan ia bersedia membayar harga tersebut dengan lapang dada. Pria itu kemudian merapikan pakaiannya, bersiap untuk melangkah kembali ke dalam dunia nyata yang menantinya di luar sana.
“Sudah saatnya aku pergi melanjutkan perjalananku, Olivia, membawa seluruh berkah pemahaman baru ini bersamaku ke mana pun takdir menuntunku. Aku berjanji akan menjaga diriku dengan baik, sebagaimana kau telah menjaga kesucian makna cinta kita di dalam doa-doamu yang sunyi selama ini,” kata Sjahranie sembari berdiri tegak dengan senyuman terbaik yang bisa ia sunggingkan di wajahnya. Ia mengulurkan tangannya sebagai tanda perpisahan fisik yang akan memisahkan raga mereka kembali, namun menyatukan jiwa dalam keabadian makna.
“Pergilah dengan damai, Sjahranie, dan jadilah cahaya bagi sekelilingmu sebagaimana kau telah menjadi cahaya dalam sejarah hidupku. Kita tidak pernah benar-benar berpisah, karena dalam setiap ruang sunyi doa, jiwa kita akan selalu melingkar tenang dan saling menyapa tanpa batas waktu,” jawab Olivia dengan suara yang mantap tanpa ada keraguan sedikit pun di dalamnya. Ia menjabat tangan Sjahranie dengan kehangatan yang mengalirkan energi ikhlas, sebuah pelepasan agung yang mendewasakan mereka berdua secara paripurna.
Saat kakinya melangkah keluar dari kedai, udara malam kota Semarang yang hangat langsung menyelimuti seluruh tubuh Sjahranie dengan kelembutan yang tak biasa. Langit malam tampak begitu cerah, bertaburkan ribuan bintang yang berkilauan bak permata yang terserak di atas permadani beludru hitam yang teramat luas. Tidak ada setitik pun awan kelam yang menghalangi keindahan malam itu, menegaskan bahwa alam semesta pun merestui proses kedewasaan yang baru saja terjadi. Pria itu menghirup napas sedalam-dalamnya, merasakan aliran udara segar mengisi rongga paru-parunya yang kini terasa jauh lebih lapang.
Rasa perih itu memang masih ada, berdenyut pelan di salah satu sudut hatinya yang terdalam sebagai pengingat bahwa ia adalah manusia biasa yang bisa terluka. Namun, rasa perih itu kini tidak lagi bersifat merusak atau melemahkan jiwanya, melainkan telah bermutasi menjadi sebuah kekuatan penopang kedewasaan yang teramat kokoh. Sjahranie tersenyum memandangi jalanan kota yang mulai diterangi oleh lampu-lampu jalanan yang menyala satu demi satu seperti kunang-kunang raksasa. Ia menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu berwujud kepemilikan fisik atas raga seseorang yang kita cintai dengan sepenuh hati.
Makna tertinggi dari cinta telah berhasil ia dekap malam ini lewat sosok Olivia. Perpisahan fisik hanyalah sebuah ilusi duniawi yang tidak akan pernah mampu menyentuh hakikat kedekatan spiritual yang telah mereka bina dalam keheningan masing-masing. Sjahranie melangkah dengan dada yang lapang, siap menghadapi segala tantangan masa depan yang membentang luas di hadapannya tanpa ada lagi rasa takut akan kesepian. Setiap jengkal tanah kota Semarang yang dipijaknya kini terasa seperti saksi bisu atas lahirnya seorang manusia baru yang telah lulus dari ujian cinta.
Di sudut kedai yang mulai sepi, Olivia masih terduduk manis menatapi sisa wedang di cangkirnya dengan perasaan yang teramat damai dan penuh syukur. Ia tahu bahwa tugas untuk mendewasakan pria yang dicintainya telah selesai dilaksanakan dengan sangat paripurna malam ini. Bayang-bayang masa lalu yang sempat menyidang jiwanya kini telah bertransformasi menjadi pilar-pilar kebijaksanaan yang akan menopang sisa perjalanan hidupnya yang sunyi. Wanita itu tersenyum lembut memandangi pintu kedai yang tertutup, melepaskan kepergian Sjahranie dengan keikhlasan seorang manusia yang telah mencapai kematangan jiwa.
0 Response to "Menyidang"
Posting Komentar