Diberi Nama Qadarsih Larasvati

Apakah kau siap jika perjalanan ini tidak lagi tentang kebebasan, melainkan tentang komitmen yang mengikat, mencerahkan, dan tentang perjuangan bersama-sama?

Yang Terpinang Telah Kembali

Oleh: Sjahranie
📜

Yang terpinang telah kembali.
Tiba-tiba saja Ia bernyanyi.
Suara lembutnya menemui nurani.
Bukan pada telinga ini.

Nyaring bergema tak kunjung henti,
Membentuk gelombang pada ruang imaji,
mustahil digapai secara indrawi.

Perlahan lepas menjelma merpati
yang sudah diperistri,
lalu dikaruniai buah hati.

Di sudut kedai kopi tua kawasan Kota Lama Semarang, aroma arabika beradu dengan sisa kelembapan hujan petang. Sjahranie, seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun dengan rambut agak berantakan, menatap lurus ke luar jendela besar yang memantulkan lampu-lampu jalanan aspal basah. Tangannya bergerak gelisah di atas meja kayu yang mulai lapuk, jemarinya sesekales mengetuk permukaan kafein yang perlahan mendingin. Di seberangnya, kursi kosong seolah menjelma ruang hampa yang menuntut sebuah kehadiran yang telah lama raib dari pelupuk matanya.

Malam itu, Semarang seakan melambat, membiarkan deru kendaraan di Jalan Pemuda lamat-lamat bertransformasi menjadi melodi latar yang sepi. Sjahranie menarik napas dalam-dalam, merasakan sesak yang biasa menetap di dadanya setiap kali ingatan tentang Olivia kembali menyergap tanpa permisi. Kota ini terlalu penuh dengan jejak wanita itu, mulai dari bangunan kolonial berlumut hingga aroma laut utara yang dibawa angin malam. Kehadiran Olivia di masa lalu bukan sekadar singgah, melainkan sebuah ketetapan takdir yang telah memahat ulang seluruh sudut batinnya yang rapuh.

YANG TERPINANG TELAH KEMBALI Oleh: Sjahranie 📜 Yang Terpinang Telah Kembali. Tiba-Tiba Saja Ia Bernyanyi. Suara Lembutnya Menemui Nurani. Bukan Pada Telinga Ini.  Nyaring bergema tak kunjung henti, Membentuk gelombang pada ruang imaji, mustahil digapai secara indrawi.  Perlahan lepas menjelma merpati yang sudah diperistri, lalu dikaruniai buah hati.  Di sudut kedai kopi tua kawasan Kota Lama Semarang, aroma arabika beradu dengan sisa kelembapan hujan petang. Sjahranie, seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun dengan rambut agak berantakan, menatap lurus ke luar jendela besar yang memantulkan lampu-lampu jalanan aspal basah. Tangannya bergerak gelisah di atas meja kayu yang mulai lapuk, jemarinya sesekales mengetuk permukaan kafein yang perlahan mendingin. Di seberangnya, kursi kosong seolah menjelma ruang hampa yang menuntut sebuah kehadiran yang telah lama raib dari pelupuk matanya.  Malam itu, Semarang seakan melambat, membiarkan deru kendaraan di Jalan Pemuda lamat-lamat bertransformasi menjadi melodi latar yang sepi. Sjahranie menarik napas dalam-dalam, merasakan sesak yang biasa menetap di dadanya setiap kali ingatan tentang Olivia kembali menyergap tanpa permisi. Kota ini terlalu penuh dengan jejak wanita itu, mulai dari bangunan kolonial berlumut hingga aroma laut utara yang dibawa angin malam. Kehadiran Olivia di masa lalu bukan sekadar singgah, melainkan sebuah ketetapan takdir¹ yang telah memahat ulang seluruh sudut batinnya yang rapuh.  Pintu kedai berdenting pelan, memecah lamunan Sjahranie yang hampir larut dalam keheningan malam yang kian pekat. Siluet seorang wanita dengan mantel panjang basah melangkah masuk, mengusap bulir air yang menempel pada ujung rambutnya yang kecokelatan. Jantung Sjahranie berdesir, sebuah getaran yang langsung mengenali presensi tersebut tanpa perlu konfirmasi dari sepasang matanya. Olivia telah kembali, berdiri di sana dengan keanggunan yang sama seperti tiga tahun lalu saat dia memilih melangkah pergi.  "Kau tidak banyak berubah, Sjahranie, masih suka duduk di sudut yang paling tersembunyi dari dunia," ucap Olivia lirih sembari melangkah mendekat. Suaranya begitu lembut, mengalun pelan namun anehnya langsung menghantam bagian terdalam dari kesadaran Sjahranie yang paling sunyi.  Sjahranie mendongak, mencoba mengumpulkan kembali serpihan ketenangannya yang mendadak buyar dalam satu detik yang krusial. "Dunia terlalu bising, Olivia, dan di sudut inilah aku bisa mendengar gema ingatanmu dengan lebih jernih tanpa distorsi," balasnya dengan nada suara yang sengaja ditahan agar tidak bergetar.  Olivia tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang menyimpan ribuan rahasia dan kesedihan yang urung diucapkan. Dia menarik kursi di hadapan Sjahranie, mendudukinya dengan perlahan seolah takut merusak keheningan magis yang mendadak tercipta di antara mereka. Kehadirannya terasa begitu nyata namun sekaligus absurd, seperti sebuah fatamorgana yang tiba-tiba mewujud di tengah gurun kerinduan pemuda itu. Di antara mereka, ada jarak beberapa puluh sentimeter yang terasa seperti bentangan samudra luas yang tak terseberangi.  "Aku selalu mendengarmu bernyanyi dalam kepalaku, bahkan ketika kau berada di belahan bumi yang berbeda."  "Aku selalu mendengarmu bernyanyi dalam kepalaku, bahkan ketika kau berada di belahan bumi yang berbeda," bisik Sjahranie lagi, matanya mengunci mata Olivia yang berkilau diterpa cahaya temaram lampu kedai.  "Suara itu bukan untuk telingamu, Sjahranie, melainkan untuk sebuah janji yang pernah kita sembunyikan di bawah langit Simpang Lima²," sahut Olivia pelan. Matanya menerawang ke arah cangkir kopi yang masih mengepulkan uap tipis di atas meja.  "Namun suara lembutmu selalu menemui nuraniku, menolak untuk larut dalam bisingnya kota yang egois ini," kata Sjahranie dengan tatapan yang kian dalam, seolah sedang membaca lembaran suci masa lalu mereka yang sempat robek.  Mereka terdiam, membiarkan jeda berbicara melampaui batasan kata-kata manusia yang sering kali terlalu dangkal untuk mengartikan rasa. Di luar, gerimis kembali turun membasahi bumi Semarang, menciptakan simfoni alam yang berirama konstan dan menenangkan jiwa yang gundah. Bagi Sjahranie, pertemuan ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sebuah gelombang imaji yang kini mewujud nyata secara fisik. Dialog-dialog bisu yang selama bertahun-tahun mereka reka di dalam kepala kini menemukan muaranya yang paling sahih.  "Apakah kau membenciku karena memilih pergi saat segalanya baru saja dimulai?" tanya Olivia tiba-tiba, memecah kesunyian dengan sebuah pertanyaan yang selama ini ditakuti oleh mereka berdua.  Sjahranie menggeleng pelan, tangannya kini berani menyentuh pinggiran cangkir Olivia yang masih kosong. "Bagaimana bisa aku membenci seseorang yang denyut nadinya telah menjadi bagian dari ritme hidupku sendiri, Liv?" ujarnya.  "Aku harus pergi untuk menemukan siapa diriku yang sebenarnya, Sjahranie, bukan untuk meninggalkanmu dalam kehampaan," bela Olivia dengan mata yang mulai berkaca-kaca, menahan genangan emosi yang siap tumpah kapan saja.  "Kau tidak pernah benar-benar pergi, karena bayangmu selalu bergema tak kunjung henti di ruang hatiku," tukas Sjahranie lembut, mencoba menenangkan badai yang mulai tampak di wajah wanita di hadapannya itu.  Kata-kata Sjahranie beresonansi di dalam ruangan itu, menciptakan sebuah frekuensi emosional yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua. Olivia merasakan dadanya bergemuruh, menyadari bahwa ruang hati pemuda itu masih merawat namanya dengan begitu megah dan tanpa cacat. Ada rasa bersalah yang berkelindan dengan kebahagiaan aneh karena mengetahui dirinya masih menjadi kiblat dari segala rasa yang dimiliki Sjahranie. Pertemuan di kota Semarang ini seolah menjadi konfirmasi bahwa ada hal-hal yang mustahil digapai secara indrawi namun nyata dalam rasa.  "Aku selalu merasa bersalah karena membiarkanmu menggenggam angin, sementara aku berlari mengejar ketidakpastian di luar sana," ucap Olivia dengan nada penyesalan yang teramat kental.  Sjahranie tersenyum, sebuah senyuman tulus yang menghapus segala beban yang menggantung di antara mereka sejak menit pertama. "Cinta yang sejati tidak pernah memenjarakan, Olivia, ia membiarkanmu menjadi merpati yang terbang bebas mengepakkan sayap," jawabnya.  "Dan kini merpati itu telah lelah terbang, Sjahranie, ia ingin pulang ke sarang yang paling hangat," bisik Olivia, jemarinya bergerak maju menepis jarak, menyentuh punggung tangan Sjahranie yang hangat.  Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik yang menghidupkan kembali sel-sel harapan yang sempat mati di dalam tubuh Sjahranie. Pemuda itu membalikkan telapak tangan-nya, menggenggam erat jemari Olivia yang terasa agak dingin akibat terpaan hujan Semarang. Di bawah temaram lampu Kota Lama, dua jiwa yang sempat terlempar ke sudut-sudut sepi dunia kini kembali menemukan ruang mereka. Merpati itu telah kembali, menuntaskan takdir yang sempat tertunda oleh ego.  "Apakah kau siap jika perjalanan ini tidak lagi tentang kebebasan, melainkan tentang komitmen yang mengikat, mencerahkan, dan tentang perjuangan bersama-sama?" tanya Sjahranie memastikan, matanya menuntut kejujuran paling mutlak dari jiwa Olivia.  Olivia mengangguk tanpa ragu, air matanya akhirnya luruh, membasahi meja kayu saksi bisu mereka. "Aku siap menjadi rumah tempatmu pulang, menjadi bagian dari setiap helai napas dan doa yang kaurajut," jawabnya mantap.  Waktu seolah berhenti berputar di dalam kedai kopi itu, membiarkan komitmen baru tertulis di antara aroma cengkih dan tembakau lamat-lamat. Semarang malam itu saksi bagaimana sebuah puisi kehidupan ditulis ulang oleh dua orang anak manusia yang menolak menyerah pada jarak. Mereka tidak lagi berbicara tentang masa lalu yang terluka, melainkan tentang masa depan yang mulai terbentang luas di hadapan mereka. Langkah kaki mereka ke depan akan menjadi ritme baru yang selaras dengan melodi alam semesta.  "Aku membayangkan suatu hari nanti, ada suara langkah kecil yang berlarian di ruang tengah rumah kita," ujar Olivia dengan rona merah yang mendadak muncul di pipinya.  Sjahranie terkekeh pelan, hatinya membuncah oleh kebahagiaan yang teramat sangat hingga rasanya hampir tidak nyata. "Seorang anak yang akan kita beri nama yang indah, sebuah nama yang mengandung doa dan seluruh perjalanan kita," sahutnya riang.  "Siapa nama yang kau siapkan untuk buah hati kita kelak?" goda Olivia, mencoba mencairkan sisa-sisa ketegangan emosional yang sempat mendominasi.  Sjahranie menatap keluar jendela, ke arah langit malam Semarang yang mulai menampakkan satu-dua bintang di balik sisa awan mendung. "Qadarsih Larasvati," ucapnya mantap, melafalkan nama itu seolah sedang merapalkan mantra suci yang akan menjaga masa depan mereka dari segala marabahaya dunia. Nama itu mengalun indah, menutup malam yang panjang dengan sebuah janji tentang awal yang baru, tentang kehidupan yang akan mereka rawat bersama.  📑 Lihat Catatan Kaki & Informasi Latar ▼

Pintu kedai berdenting pelan, memecah lamunan Sjahranie yang hampir larut dalam keheningan malam yang kian pekat. Siluet seorang wanita dengan mantel panjang basah melangkah masuk, mengusap bulir air yang menempel pada ujung rambutnya yang kecokelatan. Jantung Sjahranie berdesir, sebuah getaran yang langsung mengenali presensi tersebut tanpa perlu konfirmasi dari sepasang matanya. Olivia telah kembali, berdiri di sana dengan keanggunan yang sama seperti tiga tahun lalu saat dia memilih melangkah pergi.

"Kau tidak banyak berubah, Sjahranie, masih suka duduk di sudut yang paling tersembunyi dari dunia," ucap Olivia lirih sembari melangkah mendekat. Suaranya begitu lembut, mengalun pelan namun anehnya langsung menghantam bagian terdalam dari kesadaran Sjahranie yang paling sunyi.

Sjahranie mendongak, mencoba mengumpulkan kembali serpihan ketenangannya yang mendadak buyar dalam satu detik yang krusial. "Dunia terlalu bising, Olivia, dan di sudut inilah aku bisa mendengar gema ingatanmu dengan lebih jernih tanpa distorsi," balasnya dengan nada suara yang sengaja ditahan agar tidak bergetar.

Olivia tersenyum tipis, sebuah lengkungan bibir yang menyimpan ribuan rahasia dan kesedihan yang urung diucapkan. Dia menarik kursi di hadapan Sjahranie, mendudukinya dengan perlahan seolah takut merusak keheningan magis yang mendadak tercipta di antara mereka. Kehadirannya terasa begitu nyata namun sekaligus absurd, seperti sebuah fatamorgana yang tiba-tiba mewujud di tengah gurun kerinduan pemuda itu. Di antara mereka, ada jarak beberapa puluh sentimeter yang terasa seperti bentangan samudra luas yang tak terseberangi.

"Aku selalu mendengarmu bernyanyi dalam kepalaku, bahkan ketika kau berada di belahan bumi yang berbeda."

"Aku selalu mendengarmu bernyanyi dalam kepalaku, bahkan ketika kau berada di belahan bumi yang berbeda," bisik Sjahranie lagi, matanya mengunci mata Olivia yang berkilau diterpa cahaya temaram lampu kedai.

"Suara itu bukan untuk telingamu, Sjahranie, melainkan untuk sebuah janji yang pernah kita sembunyikan di bawah langit Simpang Lima," sahut Olivia pelan. Matanya menerawang ke arah cangkir kopi yang masih mengepulkan uap tipis di atas meja.

"Namun suara lembutmu selalu menemui nuraniku, menolak untuk larut dalam bisingnya kota yang egois ini," kata Sjahranie dengan tatapan yang kian dalam, seolah sedang membaca lembaran suci masa lalu mereka yang sempat robek.

Mereka terdiam, membiarkan jeda berbicara melampaui batasan kata-kata manusia yang sering kali terlalu dangkal untuk mengartikan rasa. Di luar, gerimis kembali turun membasahi bumi Semarang, menciptakan simfoni alam yang berirama konstan dan menenangkan jiwa yang gundah. Bagi Sjahranie, pertemuan ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan sebuah gelombang imaji yang kini mewujud nyata secara fisik. Dialog-dialog bisu yang selama bertahun-tahun mereka reka di dalam kepala kini menemukan muaranya yang paling sahih.

"Apakah kau membenciku karena memilih pergi saat segalanya baru saja dimulai?" tanya Olivia tiba-tiba, memecah kesunyian dengan sebuah pertanyaan yang selama ini ditakuti oleh mereka berdua.

Sjahranie menggeleng pelan, tangannya kini berani menyentuh pinggiran cangkir Olivia yang masih kosong. "Bagaimana bisa aku membenci seseorang yang denyut nadinya telah menjadi bagian dari ritme hidupku sendiri, Liv?" ujarnya.

"Aku harus pergi untuk menemukan siapa diriku yang sebenarnya, Sjahranie, bukan untuk meninggalkanmu dalam kehampaan," bela Olivia dengan mata yang mulai berkaca-kaca, menahan genangan emosi yang siap tumpah kapan saja.

"Kau tidak pernah benar-benar pergi, karena bayangmu selalu bergema tak kunjung henti di ruang hatiku," tukas Sjahranie lembut, mencoba menenangkan badai yang mulai tampak di wajah wanita di hadapannya itu.

Kata-kata Sjahranie beresonansi di dalam ruangan itu, menciptakan sebuah frekuensi emosional yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua. Olivia merasakan dadanya bergemuruh, menyadari bahwa ruang hati pemuda itu masih merawat namanya dengan begitu megah dan tanpa cacat. Ada rasa bersalah yang berkelindan dengan kebahagiaan aneh karena mengetahui dirinya masih menjadi kiblat dari segala rasa yang dimiliki Sjahranie. Pertemuan di kota Semarang ini seolah menjadi konfirmasi bahwa ada hal-hal yang mustahil digapai secara indrawi namun nyata dalam rasa.

"Aku selalu merasa bersalah karena membiarkanmu menggenggam angin, sementara aku berlari mengejar ketidakpastian di luar sana," ucap Olivia dengan nada penyesalan yang teramat kental.

Sjahranie tersenyum, sebuah senyuman tulus yang menghapus segala beban yang menggantung di antara mereka sejak menit pertama. "Cinta yang sejati tidak pernah memenjarakan, Olivia, ia membiarkanmu menjadi merpati yang terbang bebas mengepakkan sayap," jawabnya.

"Dan kini merpati itu telah lelah terbang, Sjahranie, ia ingin pulang ke sarang yang paling hangat," bisik Olivia, jemarinya bergerak maju menepis jarak, menyentuh punggung tangan Sjahranie yang hangat.

Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik yang menghidupkan kembali sel-sel harapan yang sempat mati di dalam tubuh Sjahranie. Pemuda itu membalikkan telapak tangan-nya, menggenggam erat jemari Olivia yang terasa agak dingin akibat terpaan hujan Semarang. Di bawah temaram lampu Kota Lama, dua jiwa yang sempat terlempar ke sudut-sudut sepi dunia kini kembali menemukan ruang mereka. Merpati itu telah kembali, menuntaskan takdir yang sempat tertunda oleh ego.

"Apakah kau siap jika perjalanan ini tidak lagi tentang kebebasan, melainkan tentang komitmen yang mengikat, mencerahkan, dan tentang perjuangan bersama-sama?" tanya Sjahranie memastikan, matanya menuntut kejujuran paling mutlak dari jiwa Olivia.

Olivia mengangguk tanpa ragu, air matanya akhirnya luruh, membasahi meja kayu saksi bisu mereka. "Aku siap menjadi rumah tempatmu pulang, menjadi bagian dari setiap helai napas dan doa yang kaurajut," jawabnya mantap.

Waktu seolah berhenti berputar di dalam kedai kopi itu, membiarkan komitmen baru tertulis di antara aroma cengkih dan tembakau lamat-lamat. Semarang malam itu saksi bagaimana sebuah puisi kehidupan ditulis ulang oleh dua orang anak manusia yang menolak menyerah pada jarak. Mereka tidak lagi berbicara tentang masa lalu yang terluka, melainkan tentang masa depan yang mulai terbentang luas di hadapan mereka. Langkah kaki mereka ke depan akan menjadi ritme baru yang selaras dengan melodi alam semesta.

"Aku membayangkan suatu hari nanti, ada suara langkah kecil yang berlarian di ruang tengah rumah kita," ujar Olivia dengan rona merah yang mendadak muncul di pipinya.

Sjahranie terkekeh pelan, hatinya membuncah oleh kebahagiaan yang teramat sangat hingga rasanya hampir tidak nyata. "Seorang anak yang akan kita beri nama yang indah, sebuah nama yang mengandung doa dan seluruh perjalanan kita," sahutnya riang.

"Siapa nama yang kau siapkan untuk buah hati kita kelak?" goda Olivia, mencoba mencairkan sisa-sisa ketegangan emosional yang sempat mendominasi.

Sjahranie menatap keluar jendela, ke arah langit malam Semarang yang mulai menampakkan satu-dua bintang di balik sisa awan mendung. "Qadarsih Larasvati," ucapnya mantap, melafalkan nama itu seolah sedang merapalkan mantra suci yang akan menjaga masa depan mereka dari segala marabahaya dunia. Nama itu mengalun indah, menutup malam yang panjang dengan sebuah janji tentang awal yang baru, tentang kehidupan yang akan mereka rawat bersama.

Subscribe untuk mendapatkan update terbaru dari kami:

0 Response to "Diberi Nama Qadarsih Larasvati"

Posting Komentar