Porak-poranda
lalu pekatnya mulai menjalar
Porak poranda datang mencecar
meredam napas yang kian sukar
Siapa sangka pesona itu menampar
Terjungkal, sial, runtuh terbakar
Arusnya jalang, saling mengejar
Kendali diri melanggar ikrar
Mawarnya layu sebelum mekar
Jeruji sunyi mengurung nalar
Di sudut ruang sunyi yang lebar
Binar ilusi mendadak memancar
Malam panjang tak lagi samar
Menyingkap paksa ranjau penyamar.
:Sjahranie
Bodoh
Sore itu langit tidak sedang muram, namun cahaya senjanya terasa terlalu pucat untuk disebut hangat. Angin bergerak perlahan di sela pohon-pohon tua sekitar kampus sastra tempat Sjahranie menghabiskan sebagian besar hidupnya dengan buku, kopi pahit, dan pikiran yang terlalu ramai. Ia duduk sendiri di bangku taman batu, memandangi halaman catatan yang sejak tadi kosong, seolah kata-kata enggan lahir dari kepalanya yang penuh sesak.
Sjahranie adalah lelaki yang selama hidupnya percaya bahwa manusia bisa selamat hanya dengan logika. Ia membangun dirinya dari disiplin, keteraturan, dan jarak emosional yang aman. Baginya, perasaan hanyalah gangguan kecil yang sering membelokkan manusia dari arah terbaiknya. Namun keyakinan itu perlahan retak ketika Olivia datang tanpa aba-aba, seperti kalimat asing yang tiba-tiba terasa akrab sejak pertama dibaca.
Olivia pertama kali ditemuinya di perpustakaan tua lantai tiga, tempat yang lebih sering sepi dibanding ramai. Perempuan itu sedang berdiri di depan rak filsafat eksistensial, mengenakan pakaian sederhana dengan rambut hitam yang jatuh tenang melewati bahu. Ada sesuatu pada matanya yang membuat Sjahranie merasa sedang dilihat terlalu dalam, seolah perempuan itu mampu membaca bagian dirinya yang selama ini disembunyikan rapat-rapat.
“Buku Albert Camus yang kau cari sedang dipinjam seseorang,” ucap Olivia pelan tanpa menoleh.
Sjahranie sedikit terkejut. “Bagaimana kau tahu aku mencarinya?”
Olivia tersenyum tipis. “Orang yang tatapannya seteduh itu biasanya sedang mencari cara memahami kehampaan.”
Kalimat itu sederhana, tetapi entah mengapa menetap terlalu lama di kepala Sjahranie. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa ada seseorang yang tidak hanya mendengar kata-katanya, melainkan juga memahami diamnya. Sejak hari itu, perpustakaan tua menjadi tempat pertemuan kecil yang perlahan menumbuhkan sesuatu yang sulit dijelaskan oleh logika mana pun.
Hari-hari berikutnya dipenuhi percakapan panjang tentang sastra, filsafat, and kehidupan yang terasa terlalu rumit untuk dijalani manusia sendirian. Mereka berbicara seolah telah saling mengenal bertahun-tahun. Olivia selalu memiliki cara aneh untuk membuat kalimat biasa terdengar seperti puisi. Sedangkan Sjahranie, yang sebelumnya kaku dan tertutup, mulai belajar tertawa tanpa dibuat-buat.
“Apa menurutmu manusia benar-benar bisa sembuh?” tanya Olivia suatu malam di kantin kampus yang hampir kosong.
Sjahranie mengaduk kopinya perlahan. “Kurasa tidak semua luka ingin sembuh. Beberapa hanya ingin ditemani.”
Olivia menatapnya lama sebelum akhirnya berkata lirih, “Kalau begitu, jangan pergi ketika lukaku mulai terlihat.”
Kalimat itu menjadi awal dari sesuatu yang lebih rumit dibanding cinta biasa. Olivia perlahan membuka sisi dirinya yang rapuh. Ia bercerita tentang keluarganya yang berantakan, tentang malam-malam panjang yang membuatnya sulit tidur, dan tentang rasa takut ditinggalkan yang terus menghantuinya sejak kecil. Sjahranie mendengarkan semuanya dengan kesabaran yang bahkan tidak pernah ia tahu ada dalam dirinya sendiri.
Namun tanpa disadari, cinta mulai mengubah arah hidup Sjahranie secara perlahan. Ia yang dulu disiplin mulai mengabaikan banyak hal demi Olivia. Tulisan-tulisannya terbengkalai. Penelitiannya tertunda. Ia mulai menjauh dari teman-temannya sendiri hanya untuk memastikan Olivia tidak merasa sendirian. Cinta itu tumbuh bukan sebagai taman yang menenangkan, melainkan seperti akar liar yang diam-diam membelit seluruh hidupnya.
Suatu malam, Olivia menelepon dengan suara gemetar.
“Aku takut sendirian malam ini,” katanya lirih.
Sjahranie langsung bangkit dari kursinya. “Aku datang.”
“Kau sedang mengerjakan jurnalmu, kan?”
“Itu bisa menunggu.”
“Semua selalu kau tinggalkan demi aku.”
Sjahranie terdiam beberapa detik sebelum menjawab pelan, “Karena kehilanganmu lebih menakutkan dibanding kehilangan diriku sendiri.”
Sejak malam itu, hubungan mereka berubah menjadi ketergantungan emosional yang sulit dijelaskan. Olivia mulai menggantungkan ketenangannya pada keberadaan Sjahranie, sedangkan Sjahranie mulai menggantungkan makna hidupnya pada Olivia. Mereka saling mencintai, tetapi dengan cara yang perlahan mengikis kebebasan masing-masing. Tidak ada badai besar, tidak ada pengkhianatan dramatis, hanya kelelahan emosional yang tumbuh diam-diam seperti racun lambat.
Sjahranie mulai kehilangan dirinya sendiri tanpa benar-benar menyadarinya. Ia tidak lagi membaca buku karena ingin memahami dunia, melainkan hanya untuk mencari kalimat yang bisa menenangkan Olivia. Ia tidak lagi menulis demi dirinya sendiri, tetapi demi membuat Olivia bertahan sedikit lebih lama. Cinta itu telah mengubahnya menjadi seseorang yang hidup demi menyelamatkan orang lain sambil melupakan dirinya sendiri tenggelam perlahan.
“Kau berubah,” kata sahabatnya suatu siang.
Sjahranie tersenyum kecil. “Semua orang berubah.”
“Tidak seperti ini. Kau terlihat lelah bahkan ketika sedang bahagia.”
Sjahranie tidak menjawab. Karena jauh di dalam dirinya, ia tahu kalimat itu benar. Ada sesuatu yang mulai patah, tetapi ia terlalu mencintai Olivia untuk mengakuinya.
Olivia sendiri bukan perempuan jahat. Ia mencintai Sjahranie dengan tulus, tetapi cintanya dipenuhi ketakutan yang tidak pernah selesai. Ia takut ditinggalkan, takut tidak cukup berarti, takut kehilangan satu-satunya orang yang membuat hidupnya terasa tenang. Ketakutan itu membuatnya tanpa sadar menuntut terlalu banyak perhatian, terlalu banyak waktu, terlalu banyak kepastian dari seseorang yang diam-diam juga sedang rapuh.
“Apa kau akan tetap tinggal kalau suatu hari aku jadi sangat buruk?” tanya Olivia ketika mereka duduk di balkon apartemen kecilnya.
Sjahranie menatap langit senja yang kosong. “Aku tidak pandai meninggalkan.”
“Itu bukan jawaban.”
“Itu jawaban paling jujur yang kupunya.”
Hubungan mereka perlahan berubah menjadi ruang penuh keheningan yang melelahkan. Mereka masih saling mencintai, tetapi cinta itu tidak lagi terasa ringan. Setiap percakapan kecil bisa berubah menjadi pertengkaran panjang. Setiap kesalahpahaman terasa seperti ancaman besar. Mereka mulai saling melukai tanpa benar-benar berniat melakukannya.
Pada suatu malam yang sunyi, Olivia menangis di depan Sjahranie.
“Aku merasa kau mulai menjauh.”
“Aku hanya lelah.”
“Lelah mencintaiku?”
Sjahranie memejamkan mata beberapa detik. “Lelah kehilangan diriku sendiri.”
Kalimat itu membuat ruangan mendadak terasa asing. Olivia menunduk perlahan, seolah baru menyadari bahwa cinta mereka tidak lagi sedang menyembuhkan, melainkan menghancurkan dua manusia sekaligus. Ada jeda panjang yang dipenuhi napas berat dan rasa bersalah yang tidak tahu harus diletakkan di mana.
Hari-hari setelahnya dipenuhi usaha untuk memperbaiki keadaan, tetapi beberapa hal memang telah retak terlalu dalam. Sjahranie mencoba kembali menulis, namun pikirannya selalu dipenuhi Olivia. Sedangkan Olivia mencoba memberi ruang, tetapi rasa takutnya selalu menarik Sjahranie kembali mendekat. Mereka seperti dua manusia yang saling memeluk di tengah laut sambil sama-sama tenggelam.
Suatu sore di perpustakaan tempat mereka pertama kali bertemu, Olivia berkata dengan suara pelan, “Mungkin kita salah menjadikan satu sama lain sebagai tempat pulang.”
Sjahranie tersenyum pahit. “Lalu kita ini apa?”
“Dua orang yang terlalu luka untuk saling menyelamatkan.”
Olivia terdiam sejenak setelah mengatakan hal itu, lalu mulai bertanya.
“Menurutmu, lebih penting hidupku, atau hidupmumu?”
Sjahranie menjawab dengan tenang “Hidupku..”
Mendengar jawaban itu Olivia menyadari sesuatu, Ia melempar senyum termanisnya untuk Sjahranie, kemudian melangkah pergi sembari berkata “Terimakasih sudah memilih dirimu sendiri, selamat tinggal.”
Olivia pergi begitu saja tanpa tahu bahwa sejatinya hidup Sjahranie adalah Olivia.
Malam-malam setelah perpisahan terasa panjang dan asing. Sjahranie kembali duduk sendiri di bangku taman batu yang dulu sering ia tempati. Angin bergerak pelan, membawa aroma daun kering dan debu jalanan. Tidak ada tangisan dramatis. Tidak ada teriakan marah. Hanya kehampaan besar yang terasa jauh lebih menyakitkan dibanding kebencian.
Ia membuka buku catatannya yang lama kosong, lalu mulai menulis perlahan:
lalu pekatnya mulai menjalar.
Kata-kata itu mengalir begitu saja, seperti luka yang akhirnya menemukan jalannya sendiri menuju bahasa. Setiap bait terasa seperti serpihan dirinya yang runtuh sedikit demi sedikit. Tentang pesona yang menampar, tentang kendali diri yang melanggar ikrar, tentang mawar yang layu sebelum mekar. Semua terasa terlalu dekat dengan hidupnya sendiri.
.png)
0 Response to "Porak-poranda"
Posting Komentar